RSS

B.B (Belajar Bijak)

26 Jan

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. Q.S. An Nahl :125)

Ayat ini menegaskan bahwa kita semua diperintah untuk menyeru kepada sesama manusia, baik keluarga, sanak saudara, tetangga, teman, bahkan siapapun mereka, dan dari golongan manapun. Diseru atau diajak untuk meniti jalan shirathal mustaqim secara utuh, syariat dan hakikat, dengan cara yang penuh hikmah, serta melalui pendekatan dan argumentasi yang baik. Kemudian bila ternyata mereka menolak, membantah, atau bahkan menentang dan memperolok seruan itu, kita diperintah untuk membantah-menahan-atau menangkis dengan argumen yang lebih baik dari pada seruan sebelumnya.

Perintah ini dengan jelas tersirat bahwa di dalam melangkah berseru atau mengajak kepada sesama, kita perlu membekali diri dengan modal yang baik. Pengetahuan dan pemahaman yang cukup. Wawasan yang luas. Mental yang siap banting. Perlu pula melengkapi pengetahuan tentang berbagai model pemikiran yang mendukung keterampilan berpikir (thinking skill); seperti berpikir integral, berpikir linier, berpikir paralel, berpikir holistik, berpikir konstruktif, berpikir lateral, berpikir merancang, maupun berbagai model berpikir lainnya. Berbagai pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan pengalaman tersebut perlu dibangun dengan baik. Dalam rangka memproses diri menjadi pribadi yang bijaksana. Sebab, berjalan menuju Dzat Yang Maha Bijaksana, mensyaratkan pejalannya menjadi insan yang bijaksana. Sebagaimana cita-cita menghadap Dzat Yang Maha Suci, yang mensyaratkan pelakunya mensucikan diri sebagaimana yang digariskan Tuhan.

Orang yang bijak itu mampu menangkap hikmah atau nilai kebenaran dari manapun asalnya, tanpa melihat siapa penyampainya. Sementara kenyataannya, kita masih jauh dan belum mampu menangkap pesan hikmah yang mengada pada sesama. Masih mudah terjebak oleh ego dan nafsu. Kita merasa cukup atas pemahaman dan pengalaman.

Oleh karena itu, kita harus berani menyibak tempurung yang menghijab akal pikiran. Yang bentuknya adalah merasa cukup, merasa pengalaman, merasa lebih dulu, maupun merasa lebih-lebih lainnya. Kita harus punya keberanian membuka hijab tersebut dengan mengakui khotho’ wa nisyan. Mengakui diri al-faqir yang tidak bisa apa-apa dan tidak ada apa-apanya. Sehingga siap melahap hikmah kebenaran dari manapun asalnya.

MENJADI PRIBADI YANG BIJAKSANA ADALAH NISCAYA.

PANDAI DAN CERDAS BUKAN OTOMATIS MENJADI BIJAKSANA.

IA BUKAN SEBUAH UKURAN,

TETAPI DENGAN BIJAKSANA,

MENJADI MUDAH MENUJU PANDAI DAN CERDAS.

 
Komentar Dinonaktifkan pada B.B (Belajar Bijak)

Ditulis oleh pada 26 Januari 2014 in Artikel

 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: