RSS

Hari Ibu

21 Des

Di Eropa, Bangsa Yunani purba mempunyai satu aliran pemikiran yang mengatakan bahwa perayaan ini sebagai pemujaan kepada Cybele (ibu dewa-dewi Yunani yang agung). Bangsa Romawi Purba juga menyambut suatu perayaan yang bernama Matronalia untuk memperingati dewi Juno dan ibunya. Orang-orang Greece menganggap ‘Hari Ibu’ sebagai perayaan musim bunga dan penghormatan terhadap Rhea, ibu dari tuhan mereka. Pada tahun 1600 orang-orang Inggris merayakan hari yang mereka namakan sebagai “Mothering Sunday”. sebagai penghormatan terhadap Mother Mary. Mother Mary adalah Maryam, ibu Nabi Isa AS atau Jesus yang mereka anggap sebagai tuhan.

Di Amerika Serikat, hari Ibu diilhami oleh  Julia Ward Howe pada tahun 1872. Dia adalah seorang aktivis sosial dan telah menulis puisi “The Battle Hymn of The Republic”. Ungkapan “Hallelujah” dalam bait-bait lagu tersebut menyertakan sentuhan Yahudi dan Zionis dalam mencaturkan politik dunia. Pada tahun 1907 Anna Jarvis dari Philadelphia telah berkampanye untuk mempopulerkan Hari Ibu. Dia berhasil mempengaruhi Mother’s Church di Grafton, West Virginia agar merayakan Hari Ibu pada hari ulang tahun kedua kematian ibunya, yaitu pada hari Ahad kedua dalam bulan Mei. Pada tahun 1914, Presiden Woodrow Wilson, secara resmi menjadikan Hari Ibu sebagai hari cuti umum dan harus dirayakan pada setiap hari Ahad kedua dalam bulan Mei.

Di Asia, hari Ibu dilaksanakan pada hari yang berbeda-beda. Di China, Hari ibu yang dimaksud adalah untuk memperingati Meng Mu, ibu dari Mencius. Di Thailand disebut dengan dirai sempena yaitu hari kelahiran Ratu Sirikit Kitiyakara. Sedangkan di Indonesia bermula dari Kongres Perempuan Indonesia I, tanggal 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, atau dikenal dengan Kongres Wanita Indonesa (Kowani). 22 Desember ditetapkan sebagai perayaan Hari Ibu adalah putusan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada 1938. Yang kemudian Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga sekarang.

Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa itu adalah bid’ah atau berdosa bahkan yang lebih extreme lagi mengatakan haram. Memang benar perayaan tersebut adalah bid’ah bahkan bisa menjadi haram apabila itikad dan niatnya untuk meniru dan merayakan budaya-budaya di atas.

Guru Besar bidang Tafsir dan Ilmu al-Quran di Universiti Al-Azhar, Dr Muhammad Bakar Ismail, berpandangan bahwa penyambutan Hari Ibu adalah bid’ah dalam perkara adat dan bukan ibadat. Bid’ah dalam adat adalah tidak ada perintah dalam Islam dan tidak juga dilarang kecuali ia menghubungkan dengan agama. Jika adat ini lahir karena kemurnian dan menyeru kepada kebaikan dengan memperlakukan orang yang berhak mendapat kebaikan seperti ibu, bapak, kakek dan nenek, maka Islam dapat mengakui adat itu. Namun apabila adat itu lahir daripada perkara sebaliknya, maka Islam melarangnya.

Demikian tinggi dan mulianya martabat seorang ibu dari tanggung jawab dan perannya bagi keluarga terutama anak-anaknya. Susah payah yang dialami seorang ibu ketika mengandung, sakit yang dirasakan ibu ketika melahirkan, setelah lahir dengan penuh kasih sayang ia menjaga anak-anaknya, menyusuinya, merawat buah hatinya, sehingga ketika tidur si ibu selalu terbangun dengan tangisan bayinya. Banyak waktu dihabiskan untuk merawat, menjaga, mendidik, dari kecil hingga anak itu dewasa.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :

قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ أَبُرُّ؟ قَالَ: أُمَّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمَّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمَّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أَبَاكَ. (رواه البخاري ومسلم).

Seorang pria bertanya: “Wahai Rasulullah! Kepada siapakah aku berbakti?” Beliau menjawab: ”Ibumu” Ia bertanya lagi: “lalu kepada siapa?” beliau menjawab: “Ibumu.” kemudian ia bertanya lagi: “lalu kepada siapa ? beliau menjawab: “Ibumu” kemudian ia bertanya lagi “lalu kepada siapa ?” barulah beliau berkata: “ayahmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Perlukah kita merayakan hari ibu?

Menurut saya adalah sangat perlu, malah kalau bisa merayakannya setiap hari, sebab ibu akan tetap menjadi ibu pada setiap detik, setiap menit, setiap hari, bukan hanya pada tanggal 22 Desember saja. Adilkah kita memperlakukan insan yang mengandung dan melahirkan, tiba-tiba kita hanya merayakan kemuliaan mereka hanya dalam satu hari saja.

 
Komentar Dinonaktifkan pada Hari Ibu

Ditulis oleh pada 21 Desember 2012 in Artikel

 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: