RSS

Emansipasi Versus Dispensasi

28 Nov

Bagi seorang manajer, keputusan adalah bagian yang paling penting dalam pekerjaannya. Dalam pengambilan keputusan, biasanya seorang manajer melepaskan kepentingan pribadinya demi kepentingan yang lebih umum. Tapi ketika menyangkut keputusan yang bersentuhan dengan kepentingan karyawatinya, maka dia harus mempertimbangkan aspek-aspek lain yang mungkin menjadi sebuah kecemburuan bagi karyawan lainnya. Dengan dalih emansipasi, kaum wanita menuntut agar selalu disamakan kedudukannya dengan kaum pria. Disatu sisi kaum wanita ingin disejajarkan dengan kaum pria tapi di sisi lain meminta dispensasi karena dirinya wanita. Inilah yang biasanya menjadi pemicu keresahan dalam sebuah perusahaan, instansi, lembaga ataupun organisasi.

Sebagai contoh yang ada disebuah lembaga pendidikan. Seorang guru wanita ditegur oleh kepala sekolahnya karena ketika mengajar dia membawa anaknya ke dalam kelas. Teguran itu dijawab dengan alasan bahwa anaknya dirumah tidak ada yang ngurus maka dibawa kesekolah. Jika kepala sekolah itu tegas melarang membawa anak ke sekolah karena berkaitan dengan kualitas pendidikan, maka efek lain yang bias terjadi adalah keributan rumah tangga guru perempuan tadi dengan suaminya. Inilah dilemma bagi seorang pemimpin, pilih kualitas dengan konsekuensi rumah tangga orang lain berantakan atau membiarkan walaupun kualitas pendidikan tidak sesuai harapan.

Contoh yang lain disebuah kantor bahwa jam kerja dimulai dari jam 09.00 sampai dengan jam 17.00. bagi kaum pria hal itu tidaklah menjadi masalah yang berat, sedangkan bagi wanita apalagi yang sudah berkeluarga, ini menjadi sangat berat karena ia harus meninggalkan keluarga selama waktu kerja itu. Namun pada kenyataannya ia mencari cara untuk mendapatkan dispensasi atau pun curi-curi waktu. Misalnya waktu masuknya menjadi jam 10.30 dan Waktu istirahat jam 12.00-13.00 ia tambah menjadi 12.00 sampai dengan 16.00. dan pulangnya jam 16.30.

Bagaimana dengan pimpinan yang mengetahui hal ini. Seperti alasan yang sudah disebutkan diatas bahwa itu adalah dilemma. Justru yang harus meyadari adalah wanita itu sendiri, jangan mengajak orang lain untuk melakukan dosa dengan berbohong dan berpura-pura.

Apa sebenarnya Emansipasi itu?

Emansipasi ialah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat, sering bagi kelompok yang tak diberi hak secara spesifik, atau secara lebih umum dalam pembahasan masalah seperti itu.

Di antara lainnya, Karl Heinrich Marx membahas emansipasi politik dalam esainya Zur Judenfrage (Tentang Masalah Yahudi), meski sering di samping (atau bertentangan dengan) istilah emansipasi manusia. Pandangan Karl Marx tentang emansipasi politik dalam karya ini diikhtisarkan oleh seorang penulis seperti memerlukan “kesamaan derajat warganegara perseorangan dalam hubungannya dengan negara, kesamaan di depan hukum, tanpa memandang agama, harta benda, atau ciri orang perorang ‘pribadi’ lainnya.”

Emansipasi wanita yang selalu dielu-elukan kaum feminis itu sekali lagi, hanya akan menambah kemadhorotan bagi wanita sendiri. Karena itu semua hanya bentuk kebebasan tanpa batas yang akan merugikan diri sendiri. Padahal Allah telah menciptakan batasan syara’ itu dengan sangat lengkap dan sempurna.

Selama ini, emansipasi lebih cenderung diartikan sebagai persamaan gender yang berimplikasi pada bentuk kebebasan memilih. Misalnya memilih menjadi wanita karir, padahal tugas mencari nafkah sesungguhnya adalah kewajiban seorang pria.

Pada dasarnya, Islam membolehkannya tentunya tidak melanggar syar’i. Sebagaimana firman Allah,

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya dengan cara yang ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah: 228).

Oleh karena itu, kita harus lebih kritis dan hati-hati menyikapi maraknya gerakan yang mengatasnamakan emansipasi wanita, kesetaraan gender, persamaan derajat wanita, feminisme, dan berbagai gerakan lainnya. Banyak pemahaman yang tampaknya memperjuangkan para wanita, namun dalam praktek sesungguhnya justru merendahkan wanita.

Gerakan emansipasi wanita yang bersumber pada nilai-nilai kesamaan hak asasi manusia versi barat, justru banyak bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi derajat wanita. Contohnya, banyak sekali wanita berpakaian seksi bahkan wanita tidak malu lagi salah satu bagian tubuhnya, dilihat oleh kaum pria biarpun mereka memakai pakaian.

Peran dan keterlibatan wanita dalam kehidupan manusia, menurut pandangan Islam adalah sesuatu yang wajar dan memang harus ada. Tidak mungkin melepaskan dunia dari peran dan keterlibatan kaum wanita.

Banyak sekali hadits yang menunjukkan peran wanita,

Dari Ar-Rubayyi binti Mu’awwidz Radhiyallahu Anha berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah dalam peperangan, kami bertugas memberi minum dan makan para prajurit, melayani mereka, mengobati yang terluka, dan mengantarkan yang terluka kembali ke madinah.”

Dalam bidang perdagangan, nama Khadijah binti Khuwailid, tercatat sebagai seorang yang sangat sukses. Demikian juga Qilat Ummi Bani Anmar, yang tercatat sebagai seorang perempuan yang pernah datang kepada Nabi untuk meminta petunjuk-petunjuk dalam bidang jual beli.

Kemudian istri Rasulullah, Zainab binti Jahsy juga aktif dalam bekerja. Hingga menyamak kulit binatang dan hasilnya itu beliau sedekahkan. Ratihah, istri sahabat Nabi, Abdullah ibn Mas’ud sangat aktif bekerja karena suami dan anaknya ketika itu tidak mampu bekerja.

Pemahaman mengenai emansipasi perempuan harus dilihat dari berbagai aspek. Tidak hanya dilihat dari aspek penuntutan hak saja, tetapi juga harus dilihat dari pemenuhan kewajiban. Perkembangan zaman mendengungkan emansipasi sebagai penuntutan hak, dengan mengesampingkan kewajiban yang menjadi konsekuensi dari hak-hak tersebut.

Contoh konkretnya, wanita diperbolehkan berkarir tetapi juga harus tetap memenuhi kewajibannya seperti harus memakai jilbab pada saat berkerja dimanapun, harus menjadi istri dan ibu yang sholehah buat keluarganya.

Dengan demikian, makna emansipasi menurut perspektif hukum Islam tidak hanya menjabarkan mengenai penuntutan hak saja. Akan tetapi juga menjelaskan tentang kewajiban-kewajiban sebagai konsekuensi dari hak yang bertujuan untuk memuliakan wanita.

Dalam Islam, wanita justru sangat dimuliakan sesuai peran dan kedudukan kodratinya. Bukan tidak mungkin, paham emansipasi yang sekarang marak disebarluaskan justru akan mengantar kaum wanita pada kehinaan.

 
Komentar Dinonaktifkan pada Emansipasi Versus Dispensasi

Ditulis oleh pada 28 November 2012 in Artikel

 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: