RSS

Hanya dan Cuma

24 Nov

Istilah hanya dan cuma, seringkali mewarnai kehidupan sehari-hari kita. Malah dengan istilah itu, aturan apapun menjadi sangat lembek.

Ada beberapa pengalaman yang mungkin bisa di sharing, misalnya :

1. Ketika saya mengajar di sebuah SMP, tiba-tiba ada seorang anak perempuan yang menangis dan mengadu kepada saya. Sambil terisak anak perempuan itu mengatakan bahwa teman laki-laki nya mengangkat rok nya sampai …, ketika dikonfirmasi, ternyata memang benar, tapi dengan santai dia menjawab : emang cengeng aja dia mah pak, CUMA diangkat roknya aja nangis, padahal kan ga sakit.

2. Ketika saya mau parkir didepan sebuah toko, saya melihat sebuah rambu lalu lintas tidak boleh parkir dan berhenti disekitar itu. Tapi ketika saya mau mencari tempat parkir, muncul tukang parkir dan mempersilahkan saya untuk parkir ditempat itu. Saya bertanya kepada tukang parkir, apakah boleh parkir di situ, jawab tukang parkir itu, sebenarnya sih ga boleh pak, tapi HANYA sebentar mah boleh kali.

3. Ketika saya naik becak, tiba-tiba tukang becak itu belok dan masuk pada jalan yang satu jalur. Kok lewat sini mang? ga apa-apa CUMA lewat pinggirnya aja.

Masih banyak cerita-cerita yang lain, yang tentu saja istilah HANYA DAN CUMA, bisa menjadi aturan tersendiri, dan orang bisa menjadi kebal hukum dengan istilah ini.

Intinya, sebaiknya apapun sistem atau aturan, tidak akan berjalan kalau tidak ada kepedulian dan selalu menganggap enteng aturan itu.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2012 in Artikel

 

2 responses to “Hanya dan Cuma

  1. Ayahanda Iwan Hermawan

    28 November 2012 at 10:55 pm

    g kepikiran tu karena mikirin yg lain kali…

     
  2. Djayanti Nakhla Andonesi

    24 November 2012 at 8:14 pm

    keren sekali penelitiannya pak…
    ga kepikiran da saya mah pak ^0^

     
 
%d blogger menyukai ini: