RSS

AL-QUR’AN PUN BICARA

Dulu …

Ketika kau masih kecil

Engkau adalah sahabat sejatiku!

Dalam keadaan suci sehabis berwudlu

Kau pegang Aku,

kau baca Aku,

kau junjung Aku,

kau pelajari Aku,

kau cium Aku dengan mesra ketika kau usai berkomunikasi denganku …

SETIAP HARI!

Sekarang …

Engkau telah dewasa …

Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku…

Kau simpan Aku dengan rapih hingga engkau lupa dimana menyimpannya

Kau hanya jadikan Aku sebagai perhiasan rumahmu agar dianggap orang yang bertaqwa

Kau hanya jadikan Aku sebagai penangkal untuk menakuti hantu dan syetan

Kini Aku dibiarkan dalam kesendirian dan kesepian

Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.

Dulu…

Setiap pagi surat-surat yang ada padaku engkau baca.

Sore harinya kau baca Aku beramai-ramai bersama teman-teman mu di surau…

Sekarang…

Setiap pagi sambil minum kopi

Engkau membaca Koran pagi atau menonton berita Televisi

Waktu senggangpun, engkau sempatkan membaca buku karangan manusia

Bila malam tiba …

Engkau tahan berjam-jam di depan Televisi

Hanya untuk menonton pertandingan olahraga favorit , musik atau film

Engkau tahan berjam-jam di depan Komputer atau Internet

Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah.

Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat Allah

Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan

Di meja kerjamu tidak ada Aku

Di komputermu tidak ada Aku

Di laci mobilmu tidak ada Aku

Waktupun cepat berlalu…

Aku menjadi semakin kusam dalam lemari.

Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu.

Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku.

Itupun hanya beberapa lembar dariku, dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu.

Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.

Peganglah Aku lagi

Bacalah kembali aku setiap hari

Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci.yang berasal dari Allah

Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu

Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu agar engkau senantiasa dapat segera membacaku ketika waktu luangmu

Sentuhlah aku kembali

Baca dan pelajari lagi aku

Setiap datangnya pagi dan sore hari.

Seperti dulu….dulu sekali…Waktu engkau masih kecil, lugu dan polos…

Di surau kecil kampungmu yang damai.

Clip (187)

 
Comments Off on AL-QUR’AN PUN BICARA

Ditulis oleh pada 19 Januari 2015 in Artikel

 

HIKMAH DIBALIK PERINTAH BERSUCI

HIKMAH DIBALIK PERINTAH BERSUCI

Islam adalah agama yang cinta keindahan. Keindahan selalu identik dengan kebersihan dan kesucian. Oleh karena itu Allah SWT mewajibkan setiap muslim untuk bersuci. Bersuci dari segala kotoran atau najis sesuai dengan kriteria Allah dan rasul-Nya. Ada beberapa ayat dalam Al Qur’an mengenai perintah bersuci/membersihkan diri.

  1. Q. Al-Baqarah [2] : ayat 222

وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡمَحِيضِۖ قُلۡ هُوَ أَذٗى فَٱعۡتَزِلُواْ ٱلنِّسَآءَ فِي ٱلۡمَحِيضِ وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطۡهُرۡنَۖ فَإِذَا تَطَهَّرۡنَ فَأۡتُوهُنَّ مِنۡ حَيۡثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ ٢٢٢

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri

  1. Al-Maidah [5] : ayat 6

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ وَإِن كُنتُمۡ جُنُبٗا فَٱطَّهَّرُواْۚ وَإِن كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوۡ جَآءَ أَحَدٞ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآئِطِ أَوۡ لَٰمَسۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءٗ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا طَيِّبٗا فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُم مِّنۡهُۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ حَرَجٖ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمۡ وَلِيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ٦

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur

  1. Q. Al-Anfal [8] : ayat 11

إِذۡ يُغَشِّيكُمُ ٱلنُّعَاسَ أَمَنَةٗ مِّنۡهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ لِّيُطَهِّرَكُم بِهِۦ وَيُذۡهِبَ عَنكُمۡ رِجۡزَ ٱلشَّيۡطَٰنِ وَلِيَرۡبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمۡ وَيُثَبِّتَ بِهِ ٱلۡأَقۡدَامَ ١١

(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)

  1. S. Al-Waqi’ah [56] : ayat 79

لَّا يَمَسُّهُۥٓ إِلَّا ٱلۡمُطَهَّرُونَ ٧٩

tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan

  1. Q. Al-Muddatsir [74] : ayat 4

 وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ٤

dan pakaianmu bersihkanlah

  1. Q. An-Nisa’ [4] : ayat 43

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَقۡرَبُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمۡ سُكَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعۡلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغۡتَسِلُواْۚ وَإِن كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوۡ جَآءَ أَحَدٞ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآئِطِ أَوۡ لَٰمَسۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءٗ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا طَيِّبٗا فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا ٤٣

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun

عَنْ أَبِى مَالِكٍ الأَشْعَرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلأُ الْمِيزَانَ. وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلآنِ – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَالصَّلاَةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا .

Dari Abu Malik Al-Harits bin Ashim Al-Asy’ari ra, Dia berkata: Rasulullah SAW pernah bersabda: “Bersuci adalah separuh dari keimanan, ucapan ‘Alhamdulillah’ akan memenuhi timbangan, ‘subhanallah dan alhamdulillah’ akan memenuhi ruangan langit dan bumi, shalat adalah cahaya, dan sedekah itu merupakan bukti, kesabaran itu merupakan sinar, dan Al-Quran itu merupakan hujjah yang akan membela atau menuntutmu. Setiap jiwa manusia melakukan amal untuk menjual dirinya, maka sebagian mereka ada yang membebaskannya (dari siksa Allah) dan sebagian lain ada yang menjerumuskannya (dalam siksa-Nya).” (HR Muslim dan Ahmad).

Makna (Bersuci Adalah Separuh Keimanan): Para ulama hadits berbeda pendapat dalam menafsirkan sabda Nabi SAW (Bersuci Adalah Separuh Keimanan). Akan tetapi pendapat yang paling populer ada dua pendapat, yaitu:

  1. Bersuci diartikan dengan BERSUCI DARI NAJIS MAKNAWI, yaitu berupa DOSA-DOSA, baik dosa batin maupun dosa lahir. Karena iman itu ada dua bentuk, yaitu meninggalkan dan melaksanakan. Maka tatkala sudah meninggalkan dosa-dosa, berarti sudah memenuhi separuh keimanan.
  2. Bersuci diartikan dengan BERSUCI DENGAN AIR. Bersuci dengan air ada dua macam, yaitu bersuci dari hadats kecil dan hadats besar. Bila bersuci diartikan dengan suci dari hadats kecil dan hadats besar maka yang dimaksud dengan iman adalah sha Jadi bersuci itu separuh dari shalat. Shalat dikatakan sebagai iman karena merupakan pokok amalan keimanan.

Perintah Allah pasti membawa kebaikan, tidak terkecuali dengan bersuci yang begitu banyak manfaat jika kita yang mau melaksanakannya.

Manfaat langsung yang tampak di mata adalah keindahan dan kesehatan. Selain manfaat yang umum, tentu perintah bersuci ini mempunyai manfaat-manfaat yang khusus, antara lain:

Wudu’.

Selain bertujuan untuk membersihkan hadas kecil, ada banyak sekali makna dan hikmah yang dapat kita renungkan dari seluruh rukun maupun sunnah wudu’.

Pertama, berkumur-kumur merupakan lambang penyucian mulut dan lidah, agar terhindar dari makanan yang di haramkan Allah, serta menjaganya dari perkataan kotor atau sia-sia.

Kedua, membasuh muka dan sudut-sudut mata kita lakukan agar wajah selalu berseri indah, membuat orang lain senang melihatnya. Juga agar kita selalu menjaga pandangan mata , menghindarkannya dari sesuatu yang terlarang untuk dilihat.

Ketiga, membasuh tangan memuat makna agar tangan kita terjaga dari perbuatan tidak terpuji, seperti merampas hak atau menyakiti tubuh orang lain.

Keempat, mengusap sebagian kepala bertujuan agar pikiran kita senantiasa bersih, dan otak kita mampu mampu menyerap ilmu Allah dengan jernih .

Kelima, dengan membasuh kedua daun telinga , berarti kita memelihara dari bunyi perkataan yang kotor dan tidak bermanfaat.

Keenam, membasuh membasuh kedua kaki mengandung hikmah agar kaki terpelihara dari langkah yang salah, dari langkah-langkah menuju maksiat , dari langkah-langkah menjauhi keridhaan Allah SWT.

 

Tayamum.

Didalam tayamum pun ada makna yang tersirat yang perlu kita renungkan, yaitu mengingatkan kejadian asal manusia, yakni tanah. Kelak setelah mati, jasad semua manusia akan lebur  kembai menjadi tanah. Makna yang lain adalah membuat kita bersyukur bahwa Allah selalu  memberikan banyak kemudahan. Karena air wudu’ memang tak selalu bisa dapat di setiap tempat , maka debu yang ada dimana-mana menjadi pilihan.

Mandi Wajib.

Secara lahiriah mandi wajib berdampak besar pada kebersihan tubuh dan kesegaran fisiknya akan pulih, sehingga dapat kembali menjalankan aktivitas kehidupan dengan baik. Secara batiniah, dapat menetralkan pengaruh kejiwaan dan kembali fitrah kesuciaannya. Bagi perempuan yang usai haid atau melahirkan, wajib mandi dapat membersihkan kotoran yang melekat pada dirinya. Juga memulihkan kekuatan serta kesegaran tubuhnya, sehingga bisa kembali beribadah dengan baik kepada Allah.

Tak perlu lagi di perdebatkan mengenai manfaat menjaga kebersihan dalam hidup kita. Membiasakan hidup bersih baik dari kotoran, najis, maupun hadas merupakan pangkal kesehatan. Lebih khusus adalah bagi kesehatan jasmani dan rohani seorang hamba Allah yang senantiasa beribadah kepada-Nya.  Ingat, bersih dan suci merupakan persyaratan ibadah. Bersuci dan membiasakan diri hidup bersih pun merupakan sifat terpuji yang membuktikan bahwa derajat manusia lebih tinggi dibanding makhluk lain.

Pikiran melahirkan tindakan, tindakan melahirkan kebiasaan, dan kebiasaan melahirkan karakter. Teori itu bisa diterapkan dimana saja. Tak terkecuali dalam bentuk karakter “cinta kebersihan”.

Kalau kita benar-benar dapat mengamalkan ajaran islam tentang kebersihan dan kesucian, pasti akan terpilihara keserasian antara manusia dengan lingkungannya. Antara manusia dengan manusia, serta  antara manusia dengan alam. Kesehatan akan terjaga, terhindar dari beragam penyakit jasmani yang dapat menggangu aktivitas kehidupan. Keindahan lingkungan juga dapat terwujud, sehingga kesehatan rohani pun turut tercipta. Demikian pentingnya ajaran kebersihan dalam islam, hingga nabi pernah bersabda:

الاسلام نظيف فتظفوا فانّه لايد خل الجنّة الاّ نظيف

“Islam itu agama yang bersih, maka jagalah kebersihan. Sesngguhnya tidak masuk surge kecuali orang-orang yang bersih.” (H.R. BAIHAQI)

Ada beberapa hikmah dibalik anjuran tersebut diantaranya:

Pertama, menunjukkan fitrah Islam sebagai agama yang suci. Kedua, Menjaga kehormatan dan kewibawaan seorang Islam. Karena manusia pada dasarnya condong pada sesuatu yang bersih, suka berkumpul dengan orang-orang yang bersih dan menjauhi sesuatu yang kotor. Maka perintah bersuci adalah jalan menuju kehormatan dan kewibawaan Islam itu sendiri. Lebih-lebih ketika bersinggungan dengan msyarakat lainnya. Ketiga, adalah menjaga kesehatan. Karena penyakit itu datang disebabkan kuman-kuman serta bakteri-bakteri yang dibawa oleh kotoran, maka Islam menganjurkan umatnya untuk menjaga kebersihan agar terhindar dari penyakit. Seperti membersihkan badan, mencuci muka, mencuci tangan, mencuci kaki, karena anggota yang disebutkan merupakan tempat dimana kotoran yang menbawa penyakit itu bersarang. Keempat, adalah mempermudah diri mendekati Ilahi. Allah Tuhan Yang Maha Suci senang akan hal-hal yang suci. Karena itu keitka shalat untuk menghadapi-Nya haruslah dalam keadaan suci secara lahir maupun batin

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 15 November 2014 in Artikel

 

Kugali kuburku dengan tanganku sendiri!

Kugali kuburku dengan tanganku sendiri

 
Comments Off on Kugali kuburku dengan tanganku sendiri!

Ditulis oleh pada 18 Oktober 2014 in Artikel

 

MENCINTAI DAN MEMBENCI

Rasulullah SAW bersabda:

أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ – رواه الترمذي

“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (H.R. At Tirmidzi)

Dalam riwayat lain, Rasulullah juga bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ اْلإِيْمَانَ – رواه أبو داود والترمذي

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (H.R.  Abu Dawud dan At Tirmidzi)

Yang dimaksud dengan al-hubbu fillah (mencintai karena Allah) adalah mencurahkan kasih sayang dan kecintaan kepada orang-orang yang beriman dan taat kepada Allah, sedangkan yang dimaksud dengan al-bughdu fillah (benci karena Allah) adalah mencurahkan ketidaksukaan dan kebencian kepada orang-orang yang mempersekutukan-Nya dan kepada orang-orang yang keluar dari ketaatan kepadaNya dikarenakan mereka telah melakukan perbuatan yang mendatangkan kemarahan dan kebencian Allah, meskipun mereka itu adalah orang-orang yang dekat hubungan dengan kita.

Berdasarkan hal tersebut maka kita harus memberikan kecintaan dan kesetiaan hanya kepada Allah. Kita harus mencintai terhadap sesuatu yang dicintai Allah, membenci terhadap segala yang dibenci Allah, ridla kepada apa yang diridlai Allah, tidak ridla kepada yang tidak diridlai Allah, memerintahkan kepada apa yang diperintahkan Allah, mencegah segala yang dicegah Allah.

Demikian juga kecintaan dan kebencian yang tidak disyari’atkan adalah yang tidak berpedoman pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Dan hal ini bermacam-macam jenisnya di antaranya adalah: kecintaan dan kebencian yang dimotifasi oleh harta kekayaan, derajat dan kedudukan, suku bangsa, ketampanan, kefakiran, kekeluargaan dan lain-lain, tanpa memperdulikan norma-norma agama yang telah digariskan oleh Allah SWT.

 
Comments Off on MENCINTAI DAN MEMBENCI

Ditulis oleh pada 14 September 2014 in Artikel

 

Ikhlas

Barangkali tidak terlalu beda, kondisi orangtuaku dulu, ketika meninggalkan aku disebuah pondok pesantren. Sedih … terharu sekaligus bangga kepadaku.

Kini aku merasakan langsung sensasi itu, sedih … terharu sekaligus bangga kepada anakku Radyallah Agnia Hermawan, yang berniat mondok di Pesantren.

Usianya, tingginya, suaranya dan gayanya, mungkin sama denganku pada saat pertama kali aku dikirim orangtuaku mondok.

Ternyata engkau adalah gambaranku

Mengingatkan aku akan kasih sayang orangtuaku

Semoga Berhasil Anakku!Wayang Audy (2)

 
Comments Off on Ikhlas

Ditulis oleh pada 4 Juli 2014 in Artikel

 
Gambar

Awali dengan Bismillah

Awali dengan Bismillah

 
Comments Off on Awali dengan Bismillah

Ditulis oleh pada 13 Juni 2014 in Artikel

 

BACALAH

bacalah

1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,

2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,

4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,

5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya

Lima ayat ini disepakati para ulama turun di Mekah sebelum Nabi Hijrah, dan semua ulama juga sepakat bahwa  wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah Lima ayat pertama dari surat ini. Namanya yang populer pada masa sahabat adalah Surat Iqra’ bismi rabbika . Namanya yang tercantum dalam al-Qur’an adalah surat al-Alaq, ada juga yang menamainya surat Iqra.

Ayat pertama dari wahyu pertama ini, menganjurkan Rasulullah untuk membaca, memunculkan pertanyaan “apa yang harus dibaca?”. Ditinjau dari perspektif kebahasaan, jika satu ungkapan tidak disebutkan obyeknya, maka ia menunjukan umum mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut, seperti alam raya dan masyarakat. Dengan demikian, Tuhan menyuruh Nabi agar membaca ayat-ayat Tuhan yang tertulis (Qur’aniyah)  ataupun ayat-ayat Tuhan yang tercipta (Kauniyah). Tetapi yang paling penting dan menjadi titik tekan ayat tersebut adalah pembacaan tersebut haruslah dilandasi atas nama Tuhan. Sehingga dengan pembacaan itu menjadikannya sadar akan kefakiran diri di hadapan Allah.

Perintah membaca, menelaah, meneliti, menghimpun dan sebagainya dikaitkan dengan kata “bismi  Rabbika”. Keterkaitan ini merupakan syarat sehingga menuntut dari si pembaca bukan saja sekadar melakukan bacaan dengan atas nama Allah dan  ikhlas, tetapi juga antara lain memilih bahan bacaan yang tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan “nama Allah” itu.

Ayat yang ketiga, Allah mengulangi perintah membaca. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat  tentang tujuan pengulangan itu, ada yang menyatakan bahwa perintah pertama ditujukan kepada pribadi Nabi Muhammad saw, sedang yang kedua pada umatnya, atau yang pertama untuk membaca dalam shalat, sedang yang kedua di luar shalat. Pendapat ketiga menyatakan yang pertama perintah belajar, sedang yang kedua adalah perintah mengajar orang lain. Kemudian adalagi pendapat bahwa pengulangan kata Iqra’ berfungsi untuk memberikan semangat terhadap aktivitas membaca pengetahuan dan sebagai penegasan terhadap arti pentingnya membaca.

Dalam ayat tersebut ada dua cara yang ditempuh Allah SWT dalam mengajar manusia. Pertama melalui pena (tulisan) yang harus dibaca manusia, dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat. Cara yang kedua ini dikenal dengan istilah Ilm Laduniy. Wahyu-wahyu Ilahi yang diterima oleh manusia-manusia agung yang siap dan suci jiwanya adalah tingkat tertinggi dari bentuk pengajaran-Nya tanpa alat dan tanpa usaha manusia. Nabi Muhammmad SAW dijanjikan oleh Allah dalam wahyu-Nya yang pertama untuk termasuk dalam kelompok tersebut.

 
Comments Off on BACALAH

Ditulis oleh pada 19 Maret 2014 in Artikel