RSS

MENCINTAI DAN MEMBENCI

Rasulullah SAW bersabda:

أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ – رواه الترمذي

“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (H.R. At Tirmidzi)

Dalam riwayat lain, Rasulullah juga bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ اْلإِيْمَانَ – رواه أبو داود والترمذي

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (H.R.  Abu Dawud dan At Tirmidzi)

Yang dimaksud dengan al-hubbu fillah (mencintai karena Allah) adalah mencurahkan kasih sayang dan kecintaan kepada orang-orang yang beriman dan taat kepada Allah, sedangkan yang dimaksud dengan al-bughdu fillah (benci karena Allah) adalah mencurahkan ketidaksukaan dan kebencian kepada orang-orang yang mempersekutukan-Nya dan kepada orang-orang yang keluar dari ketaatan kepadaNya dikarenakan mereka telah melakukan perbuatan yang mendatangkan kemarahan dan kebencian Allah, meskipun mereka itu adalah orang-orang yang dekat hubungan dengan kita.

Berdasarkan hal tersebut maka kita harus memberikan kecintaan dan kesetiaan hanya kepada Allah. Kita harus mencintai terhadap sesuatu yang dicintai Allah, membenci terhadap segala yang dibenci Allah, ridla kepada apa yang diridlai Allah, tidak ridla kepada yang tidak diridlai Allah, memerintahkan kepada apa yang diperintahkan Allah, mencegah segala yang dicegah Allah.

Demikian juga kecintaan dan kebencian yang tidak disyari’atkan adalah yang tidak berpedoman pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Dan hal ini bermacam-macam jenisnya di antaranya adalah: kecintaan dan kebencian yang dimotifasi oleh harta kekayaan, derajat dan kedudukan, suku bangsa, ketampanan, kefakiran, kekeluargaan dan lain-lain, tanpa memperdulikan norma-norma agama yang telah digariskan oleh Allah SWT.

 
Komentar Dimatikan

Ditulis oleh pada 14 September 2014 in Artikel

 

Ikhlas

Barangkali tidak terlalu beda, kondisi orangtuaku dulu, ketika meninggalkan aku disebuah pondok pesantren. Sedih … terharu sekaligus bangga kepadaku.

Kini aku merasakan langsung sensasi itu, sedih … terharu sekaligus bangga kepada anakku Radyallah Agnia Hermawan, yang berniat mondok di Pesantren.

Usianya, tingginya, suaranya dan gayanya, mungkin sama denganku pada saat pertama kali aku dikirim orangtuaku mondok.

Ternyata engkau adalah gambaranku

Mengingatkan aku akan kasih sayang orangtuaku

Semoga Berhasil Anakku!Wayang Audy (2)

 
Komentar Dimatikan

Ditulis oleh pada 4 Juli 2014 in Artikel

 
Gambar

Awali dengan Bismillah

Awali dengan Bismillah

 
Komentar Dimatikan

Ditulis oleh pada 13 Juni 2014 in Artikel

 

BACALAH

bacalah

1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,

2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,

4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,

5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya

Lima ayat ini disepakati para ulama turun di Mekah sebelum Nabi Hijrah, dan semua ulama juga sepakat bahwa  wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah Lima ayat pertama dari surat ini. Namanya yang populer pada masa sahabat adalah Surat Iqra’ bismi rabbika . Namanya yang tercantum dalam al-Qur’an adalah surat al-Alaq, ada juga yang menamainya surat Iqra.

Ayat pertama dari wahyu pertama ini, menganjurkan Rasulullah untuk membaca, memunculkan pertanyaan “apa yang harus dibaca?”. Ditinjau dari perspektif kebahasaan, jika satu ungkapan tidak disebutkan obyeknya, maka ia menunjukan umum mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut, seperti alam raya dan masyarakat. Dengan demikian, Tuhan menyuruh Nabi agar membaca ayat-ayat Tuhan yang tertulis (Qur’aniyah)  ataupun ayat-ayat Tuhan yang tercipta (Kauniyah). Tetapi yang paling penting dan menjadi titik tekan ayat tersebut adalah pembacaan tersebut haruslah dilandasi atas nama Tuhan. Sehingga dengan pembacaan itu menjadikannya sadar akan kefakiran diri di hadapan Allah.

Perintah membaca, menelaah, meneliti, menghimpun dan sebagainya dikaitkan dengan kata “bismi  Rabbika”. Keterkaitan ini merupakan syarat sehingga menuntut dari si pembaca bukan saja sekadar melakukan bacaan dengan atas nama Allah dan  ikhlas, tetapi juga antara lain memilih bahan bacaan yang tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan “nama Allah” itu.

Ayat yang ketiga, Allah mengulangi perintah membaca. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat  tentang tujuan pengulangan itu, ada yang menyatakan bahwa perintah pertama ditujukan kepada pribadi Nabi Muhammad saw, sedang yang kedua pada umatnya, atau yang pertama untuk membaca dalam shalat, sedang yang kedua di luar shalat. Pendapat ketiga menyatakan yang pertama perintah belajar, sedang yang kedua adalah perintah mengajar orang lain. Kemudian adalagi pendapat bahwa pengulangan kata Iqra’ berfungsi untuk memberikan semangat terhadap aktivitas membaca pengetahuan dan sebagai penegasan terhadap arti pentingnya membaca.

Dalam ayat tersebut ada dua cara yang ditempuh Allah SWT dalam mengajar manusia. Pertama melalui pena (tulisan) yang harus dibaca manusia, dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat. Cara yang kedua ini dikenal dengan istilah Ilm Laduniy. Wahyu-wahyu Ilahi yang diterima oleh manusia-manusia agung yang siap dan suci jiwanya adalah tingkat tertinggi dari bentuk pengajaran-Nya tanpa alat dan tanpa usaha manusia. Nabi Muhammmad SAW dijanjikan oleh Allah dalam wahyu-Nya yang pertama untuk termasuk dalam kelompok tersebut.

 
Komentar Dimatikan

Ditulis oleh pada 19 Maret 2014 in Artikel

 

KEUTAMAAN ORANG YANG BERILMU

 
Komentar Dimatikan

Ditulis oleh pada 15 Maret 2014 in Artikel

 

ISTILAH PENDIDIK DALAM ISLAM

 
Komentar Dimatikan

Ditulis oleh pada 15 Maret 2014 in Artikel

 

JURNALIS DAN GURU

Pada dasarnya profesi jurnalis dan guru itu sama, yaitu sama-sama mempunyai penghasilan dari MEMBERITAHU.

Kelebihan yang dimiliki jurnalis ialah mampu mendapatkan penghasilan dengan menyembunyikan sesuatu yang dia TAHU agar tidak DIBERITAHU…

Sedangkan kelebihan guru adalah ia mampu MEMBERITAHU walaupun sebenarnya ia banyak TIDAK TAHU…

Yang pada akhirnya : sama-sama TAHU dan TAHU sama TAHU

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 30 Januari 2014 in Artikel