RSS

BACALAH

bacalah

1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,

2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,

4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,

5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya

Lima ayat ini disepakati para ulama turun di Mekah sebelum Nabi Hijrah, dan semua ulama juga sepakat bahwa  wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah Lima ayat pertama dari surat ini. Namanya yang populer pada masa sahabat adalah Surat Iqra’ bismi rabbika . Namanya yang tercantum dalam al-Qur’an adalah surat al-Alaq, ada juga yang menamainya surat Iqra.

Ayat pertama dari wahyu pertama ini, menganjurkan Rasulullah untuk membaca, memunculkan pertanyaan “apa yang harus dibaca?”. Ditinjau dari perspektif kebahasaan, jika satu ungkapan tidak disebutkan obyeknya, maka ia menunjukan umum mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut, seperti alam raya dan masyarakat. Dengan demikian, Tuhan menyuruh Nabi agar membaca ayat-ayat Tuhan yang tertulis (Qur’aniyah)  ataupun ayat-ayat Tuhan yang tercipta (Kauniyah). Tetapi yang paling penting dan menjadi titik tekan ayat tersebut adalah pembacaan tersebut haruslah dilandasi atas nama Tuhan. Sehingga dengan pembacaan itu menjadikannya sadar akan kefakiran diri di hadapan Allah.

Perintah membaca, menelaah, meneliti, menghimpun dan sebagainya dikaitkan dengan kata “bismi  Rabbika”. Keterkaitan ini merupakan syarat sehingga menuntut dari si pembaca bukan saja sekadar melakukan bacaan dengan atas nama Allah dan  ikhlas, tetapi juga antara lain memilih bahan bacaan yang tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan “nama Allah” itu.

Ayat yang ketiga, Allah mengulangi perintah membaca. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat  tentang tujuan pengulangan itu, ada yang menyatakan bahwa perintah pertama ditujukan kepada pribadi Nabi Muhammad saw, sedang yang kedua pada umatnya, atau yang pertama untuk membaca dalam shalat, sedang yang kedua di luar shalat. Pendapat ketiga menyatakan yang pertama perintah belajar, sedang yang kedua adalah perintah mengajar orang lain. Kemudian adalagi pendapat bahwa pengulangan kata Iqra’ berfungsi untuk memberikan semangat terhadap aktivitas membaca pengetahuan dan sebagai penegasan terhadap arti pentingnya membaca.

Dalam ayat tersebut ada dua cara yang ditempuh Allah SWT dalam mengajar manusia. Pertama melalui pena (tulisan) yang harus dibaca manusia, dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat. Cara yang kedua ini dikenal dengan istilah Ilm Laduniy. Wahyu-wahyu Ilahi yang diterima oleh manusia-manusia agung yang siap dan suci jiwanya adalah tingkat tertinggi dari bentuk pengajaran-Nya tanpa alat dan tanpa usaha manusia. Nabi Muhammmad SAW dijanjikan oleh Allah dalam wahyu-Nya yang pertama untuk termasuk dalam kelompok tersebut.

 
Komentar Dimatikan

Posted by pada 19 Maret 2014 in Artikel

 

KEUTAMAAN ORANG YANG BERILMU

 
Komentar Dimatikan

Posted by pada 15 Maret 2014 in Artikel

 

ISTILAH PENDIDIK DALAM ISLAM

 
Komentar Dimatikan

Posted by pada 15 Maret 2014 in Artikel

 

JURNALIS DAN GURU

Pada dasarnya profesi jurnalis dan guru itu sama, yaitu sama-sama mempunyai penghasilan dari MEMBERITAHU.

Kelebihan yang dimiliki jurnalis ialah mampu mendapatkan penghasilan dengan menyembunyikan sesuatu yang dia TAHU agar tidak DIBERITAHU…

Sedangkan kelebihan guru adalah ia mampu MEMBERITAHU walaupun sebenarnya ia banyak TIDAK TAHU…

Yang pada akhirnya : sama-sama TAHU dan TAHU sama TAHU

 
3 Komentar

Posted by pada 30 Januari 2014 in Artikel

 

B.B (Belajar Bijak)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. Q.S. An Nahl :125)

Ayat ini menegaskan bahwa kita semua diperintah untuk menyeru kepada sesama manusia, baik keluarga, sanak saudara, tetangga, teman, bahkan siapapun mereka, dan dari golongan manapun. Diseru atau diajak untuk meniti jalan shirathal mustaqim secara utuh, syariat dan hakikat, dengan cara yang penuh hikmah, serta melalui pendekatan dan argumentasi yang baik. Kemudian bila ternyata mereka menolak, membantah, atau bahkan menentang dan memperolok seruan itu, kita diperintah untuk membantah-menahan-atau menangkis dengan argumen yang lebih baik dari pada seruan sebelumnya.

Perintah ini dengan jelas tersirat bahwa di dalam melangkah berseru atau mengajak kepada sesama, kita perlu membekali diri dengan modal yang baik. Pengetahuan dan pemahaman yang cukup. Wawasan yang luas. Mental yang siap banting. Perlu pula melengkapi pengetahuan tentang berbagai model pemikiran yang mendukung keterampilan berpikir (thinking skill); seperti berpikir integral, berpikir linier, berpikir paralel, berpikir holistik, berpikir konstruktif, berpikir lateral, berpikir merancang, maupun berbagai model berpikir lainnya. Berbagai pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan pengalaman tersebut perlu dibangun dengan baik. Dalam rangka memproses diri menjadi pribadi yang bijaksana. Sebab, berjalan menuju Dzat Yang Maha Bijaksana, mensyaratkan pejalannya menjadi insan yang bijaksana. Sebagaimana cita-cita menghadap Dzat Yang Maha Suci, yang mensyaratkan pelakunya mensucikan diri sebagaimana yang digariskan Tuhan.

Orang yang bijak itu mampu menangkap hikmah atau nilai kebenaran dari manapun asalnya, tanpa melihat siapa penyampainya. Sementara kenyataannya, kita masih jauh dan belum mampu menangkap pesan hikmah yang mengada pada sesama. Masih mudah terjebak oleh ego dan nafsu. Kita merasa cukup atas pemahaman dan pengalaman.

Oleh karena itu, kita harus berani menyibak tempurung yang menghijab akal pikiran. Yang bentuknya adalah merasa cukup, merasa pengalaman, merasa lebih dulu, maupun merasa lebih-lebih lainnya. Kita harus punya keberanian membuka hijab tersebut dengan mengakui khotho’ wa nisyan. Mengakui diri al-faqir yang tidak bisa apa-apa dan tidak ada apa-apanya. Sehingga siap melahap hikmah kebenaran dari manapun asalnya.

MENJADI PRIBADI YANG BIJAKSANA ADALAH NISCAYA.

PANDAI DAN CERDAS BUKAN OTOMATIS MENJADI BIJAKSANA.

IA BUKAN SEBUAH UKURAN,

TETAPI DENGAN BIJAKSANA,

MENJADI MUDAH MENUJU PANDAI DAN CERDAS.

 
Komentar Dimatikan

Posted by pada 26 Januari 2014 in Artikel

 

URUTAN PERIWAYATAN DALAM ILMU HADITS

Hadits Mutawatir

Mutawatir adalah Hadits yang diriwayatkan oleh sekumpulan orang yang mustahil mereka sepakat berdusta menurut adat dan mereka menyandarkannya kepada sesuatu yang nyata.
Hadits Mutawatir terbagi dua:

  1. Mutawatir lafadz dan makna, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para rawi yang sama, baik lafadz atau maknanya.
  2. Mutawatir makna yaitu hadits yang telah diriwayatkan oleh para perawi yang sama secara makna saja dan tiap-tiap hadits mempunyai makna khusus.

Hadits Ahad

Hadits Ahad ialah lawan dari hadits mutawatir. Yaitu hadits yang sanadnya tidak mencapai derajat mutawatir.

 

Hadits Ahad terbagi tiga:

  1. Hadits Masyhur : Hadits yang memiliki jalan-jalan periwayatan yang terbatas, lebih dari dua jalan, dan tidak mencapai derajat mutawatir.
  2. Hadits Aziz : hadits yang diriwayatkan hanya oleh dua orang perawi saja.
  3. Hadits Gharib : Hadits yang diriwayatkan sendirian oleh se-orang rawi dalam salah satu periode rangkaian sanadnya.
 
Komentar Dimatikan

Posted by pada 20 Oktober 2013 in Artikel

 

ISTILAH POPULER DALAM ILMU HADITS

Mushthalahul Hadits yaitu ilmu tentang dasar dan kaidah untuk mengetahui keadaan seorang perawi dan yang diriwayatkannya dari segi diterima dan ditolaknya. Objek kajiannya adalah Sanad dan Matan. Ilmu ini pula yang bisa membedakan antara hadits-hadits yang shahih dengan hadits-hadits yang cacat.

Al-Hadits ialah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW baik berupa perkataan atau perbuatan atau taqrir atau sifat.

Al-Khabar ialah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW atau yang selainnya yang lebih umum dan luas.

Al-Atsar ialah sesuatu yang disandarkan kepada sahabat dan tabi’in (generasi setelah sahabat) atau sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW (hadits) apabila dalam satu kalimat ia disertakan kata Nabi SAW seperti perkataan : Dan dalam Atsar dari Nabi SAW (hadits Nabi).

Hadits Qudsi ialah Hadits yang diriwayatkan Nabi SAW dari Allah SWT. Hadits Qudsi dinamakan juga Hadits Rabbani dan Hadits Ilaahi. Kedudukan Hadits Qudsi diantara Al-Qur’an dan Hadits Nabawi, tidaklah sama karena Al-Qur’an disandarkan kepada Allah Ta’ala baik lafadz dan maknanya. Sedangkan Hadits Nabawi disandarkan kepada Nabi SAW baik lafadz dan maknanya dan Hadits Qudsi disandarkan kepada Allah Ta’ala secara makna tidak secara lafadznya dan karena itu tidak bernilai ibadah didalam membaca lafadznya dan tidak boleh dibaca didalam shalat, dan tidak dinukil secara mutawattir (keseluruhannya) sebagaimana penukilan Al-Qur’an, akan tetapi sebagiannya ada yang shahih, dhaif, dan maudhu.

Sanad adalah sesuatu jalan yang menyampaikan kepada matan atau suatu perantara yang menyampaikan kepada rawi Hadist.

Matan adalah sesuatu yang akan menyampaikan kepada sanad dari ucapan atau disebut juga redaksi hadist atau isi hadist.

Al-Musnad secara bahasa berarti yang disandarkan kepadanya. Sedangkan Al-Musnad menurut istilah ilmu hadits mempunyai beberapa arti setiap buku yang berisi kumpulan riwayat setiap shahabat secara tersendiri.

Al-Musnid adalah orang yang meriwayatkan hadits dengan sanadnya, baik dia mempunyai pengetahuan terhadap hadits atau hanya sekedar meriwayatkan saja.

Al-Muhaddits adalah orang yang berkecimpung dengan ilmu hadits baik secara periwayatan maupun dirayah, menelaah berbagai riwayat serta keadaan para perawinya.

Al-Hafidh Menurut kebanyakan ahli hadits sepadan dengan Al-Muhaddits. Sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa Al-Hafidh derajatnya lebih tinggi dari Al-Muhaddits karena yang dia ketahui pada setiap thabaqah (tingkatan/ kedudukan) lebih banyak daripada yang tidak dia ketahui.

Al Hujjah adalah Orang yang hapal tiga ratus ribu hadist beserta sanadnya.

Al-Hakim menurut sebagian ulama adalah orang yang menguasai semua hadits kecuali sebagian kecil yang tidak dia ketahui.

Ashhab As-Sunan adalah para ulama penyusun kitab-kitab “Sunan” yaitu: Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa`i, dan Ibnu Majah.

 
Komentar Dimatikan

Posted by pada 15 Oktober 2013 in Artikel